Idelando.com-Permainan ponsel ini kini tidak hanya menyedot perhatian anak-anak, mahasiswa S1 bahkan S2 yang katanya sangat sibuk pun terhipnotis oleh game yang menawarkan kenikmatan dengan berbagai fitur menarik ini. 

Bisa dibilang bermain game ini menjadi kebutuhan ketiga bagi segelintir orang, selain tidur dan makan pada masa pandemi ini.

Tingginya minat terhadap Mobile Legends (ML) menjadikan game ini sebagai salah satu objek kajian untuk artikel jurnal dan skripsi (cek google). Pengkajian game ini datang dari berbagai perspektif dan paling banyak dari perspektif pendidikan.

Demi nasib generasi bangsa yang cerah, kajian mengenai pengaruh game ini terhadap dunia pendidikan memang perlu dilakukan, karena jika tidak adanya kontrol, bermain game ini dapat berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, pola belajar anak, dan pembelajaran di sekolah.

Dari penelusuran saya terhadap berbagai literatur yang membahas ML, bisa jadi ML akan menjadi sebuah game yang dapat menjangkau semua starata kelas sosial di masyarakat--mungkin perlu diakui selama masa pandemi ini.

Sebagai kontrol, hanya melihat sisi negatif dari ML rasanya kurang efektif. Apalah arti sebuah ciptaan bila begitu. Siapa tahu ML bisa menjadi sumber dan bahan ajar di sekolah. 

Oleh karena itu, saya merasa perlu membagikan salah satu nilai yang tersirat dalam ML. Mungkin para gamer sudah mengetahuinya, tetapi saya merasa perlu untuk tetap dibagikan.

Daftar Bacaan untuk Anda:

Nilai yang dapat dipetik dari ML adalah kerja sama. Kerja sama menjadi sangat penting karena ML dimainkan dalam tim. 

Kedua tim yang bertarung, berjuang untuk mencapai dan menghancurkan basis tim lawan sambil mempertahankan basis sendiri untuk mengendalikan tiga jalur yang dikenal sebagai top, middle, dan bottom.

Dari masing-masing tim ada lima pemain yang dikenal sebagai "hero". Sementara itu, ada juga karakter terkontrol komputer yang lebih lema yang disebut "minions", bertelur di basis tim dan mengikuti tiga jalur ke basis tim lawan, melawan musuh dan menghancurkan turret.

Nah, ihwal kerja sama, mungkin yang menjadi perhatian kita selama ini terbatas pada sikap kooperatif, loyal, komunikatif tanpa memahami unsur yang paling dasar dari kerja sama itu.

Saat bekerja dalam tim, dalam konteks apa saja, misalnya, kita mengalami kegagalan yang justru disebabkan kecorobohan atau kekeliruan kita. Kemudian kita dicemooh yang membuat kita merasa tidak dihargai.

Begitu pula dalam ML, kita sering dimarah atau dimaki oleh teman setim karena kesalahan yang justru tidak kita sadari. Kemudian menimbulkan sikap saling tidak terima yang menyebabkan media chat dibanjiri makian.

Itu semua terjadi karena kita tidak menyadari peran. Kesadaran akan peran dalam tim adalah unsur dasar dari kerja sama. Sehebat apa pun kita dan sekeras apa pun kita bekerja, kalau tidak menyadari peran kita tidak akan terhindar dari kekalahan atau kegagalan.

Dalam ML kita bebas memilih hero dari ratusan hero yang ditawarkan untuk kita. Karakter hero-hero itu dibedakan atas enam peran, yaitu marksman, fighter, tank, mage, assasin, dan support. Sekuat apa pun hero yang digunakan, kalau kita tidak menyadari peran, kita tidak akan memberi sumbangsih apa-apa bagi tim.

Kita hanya akan dikenal sebagai sampah, orang bodoh, orang tolol, anak yatim, dan masih banyak lagi kata-kata toxic yang muncul di media chat untuk mendefinisikan kita yang tidak menyadari peran.

Namun, kesadaran akan peran perlu dilapisi oleh unsur yang lain, yaitu tanggung jawab, mekanisme pertahanan diri, dan pengendalian diri.

Pertama, tanggung jawab artinya kita tetap konsisten dengan peran kita, misalnya dalam ML, jika tugas kita menangani jalur atas/tengah/bawah, ya sudah kita harus konsisten sambil memperkuat hero yang digunakan sebelum membantu hero lain dalam pertarungan.

Kedua, tiap hero dalam ML memiliki masing-masing cara membangun mekanisme pertahanan diri. Untuk mengaktifkan tombol kemampuan hero masing-masing kita harus membunuh banyak minions atau buff. 

Atau dalam keadaan darurat diperlukan pemahaman akan fungsi tombol lain seperti spell, regen, dan recall. Dengan begitu kita tahu cara menghadapi dan menghindari musuh.

Begitu juga dalam konteks yang lain, kita harus belajar banyak hal untuk membangun mekanisme pertahanan diri. Dengan begitu, kita dapat bekerja dengan baik dalam peran kita.

Ketiga, kendali diri yang buruk adalah panyakit dalam kerja tim, khususnya dalam ML. Kadang-kadang, ketika hero yang digunakan telah kuat, bernafsu untuk membunuh hero dari tim lawan dan berani menyerang tim lawan secara sendiri. 

Kemudian mengakibatkan sikap tidak konsisten terhadap peran yang dapat menyumbang kematian bagi tim sendiri dan poin bagi tim lawan. Otomatis, kata yang tepat untuk mendefinisikan Anda adalah "tolol".

Begitu pula dalam konteks kerja yang lain, ketika kita merasa wawasan kita lebih luas dan gelar kita lebih tinggi, kita kurang terima dengan peran yang diberikan karena tidak sesuai keinginan. 

Emosi kita menjadi buruk. Kita tidak bekerja sepenuh hati dan tidak mau menerima masukan dari orang lain. Hal itu jelas berdampak buruk bagi kinerja kita dan keberhasilan tim.

Perlu diakui bahwa ML merupakan salah satu tempat terbaik untuk belajar kerja sama. Jika anak hobi bermain ML, kontrol dia agar bermain secukupnya dan tidak lupa untuk beristirahat. 

Bangkitkan kesadarannya akan nilai hidup melalui game, misalnya orang tua membangun komunikasi dengan anak saat dia sedang bermain game (ML), bertanya padanya: peran apa yang dimainkan atau mengapa hero yang dia gunakan sangat kuat.

Begitu pun di sekolah, bangkitkan kesadaran siswa akan nilai-nilai hidup dengan hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka sebagai contoh, salah satunya game (ML). Berhentilah untuk menyalakan mereka dan mulai mengajari mereka untuk menyadari kesalahan! Zaman sekarang banyak hal dapat menjadi sumber dan bahan belajar.

Salam, Opin Sanjaya
Mainkan ML secukupnya dan jangan lupa untuk beristirahat!

0 Komentar