Gadis di Kiri Jalan

Gadis manis itu berdiri di kiri jalan sambil memegang kaleng reyot berkarat mungkin untuk meminta-minta sebagai bekal hari ini.

Gadis manis itu berdiri di kiri jalan sambil berharap didatangi orang-orang bermata indah yang mungkin memberinya sesuatu untuk diisi di kaleng reyot berkaratnya itu.

Gadis manis itu berdiri di kiri jalan dengan wajah sedih tanpa harapan serta tangan memegang kaleng berkarat, mungkin supaya orang tahu ia membutuhkan sesuatu untuk diisi di kalengnya itu.

Gadis manis itu berdiri di kiri jalan sambil berharap untuk pulang tapi tak punya rumah apalagi keluarga sehingga ia hanya menunggu yang kuasa memanggil, mungkin karena ia berpikir bisa bertemu keluarganya di atas sana.

Kaleng Reyot

Kaleng itu tergeletak begitu saja di pinggir jalan dekat halte bus yang ada di kota tua yang penduduknya tidak seramah dulu lagi.

Kaleng itu sudah mulai reyot karena ditendang oleh orang-orang yang lewat dekat halte bus itu yang terlampau asik memerhatikan layar handphonenya.

Dulu katanya kaleng itu milik seorang gadis yang tak tahu arah karena ditinggal pergi orang tuanya begitu saja.

Gadis itu terus memegang kaleng itu ke mana pun ia pergi sebagai bekal untuk meminta-minta kepada orang bermata dan berhati indah.

Namun na'as gadis itu terlalu cepat meninggalkan dunia ini bersama kaleng reyot itu.

Mungkin ia ingin segera bertemu orang tuanya di atas sana dengan menyerahkan dirinya kepada tulah yang tak tahu datang dari mana.

Kini kaleng reyot itu tergeletak dan sendirian di kota yang tak lagi tersenyum itu sambil berharap dan menanti  gadis kecil tak tahu arah lain yang memegangnya lagi kelak.

Kota Yang Tak Lagi Tersenyum

Kota itu tak lagi tersenyum seperti dulu

Tak seperti di saat anak-anak banyak berkpumpul di taman kota dekat balai kota

Tak seperti saat banyak terdengar suara tawa anak-anak yang sedang bermain

Kota itu tak lagi tersenyum seperti dulu

Tak seperti di saat banyak pelajar yang berkumpul untuk belajar dan membagikan canda tawa satu sama lain

Tak seperti dulu lagi di saat banyak orang kecil berdemo menuntut haknya kepada penguasa

Kota itu tak lagi tersenyum seperti dulu

Tak seperti dulu di saat semua orang dengan mudah mendapatkan makanan entah itu peminta-minta atau orang yang mendiami gedung bertingkat

Tak seperti dahulu sebelum datangnya raja entah darimana yang menghancurkan senyum kota ini

Catatan: Puisi Gadis di Kiri Jalan pernah menjadi karya terpilih dalam lomba cipta puisi nasional yang diselenggarakan oleh Penerbit Jendela Sastra Indonesia.


Penulis: Saputra Nabur

0 Komentar