Sebentar

Sebentar lagi akan ada darah yang mengalir dari dalam tubuhku
dan kau akan memuji-muji aku sebagai pejuang generasi.
Sebentar lagi akan ada air yang jatuh dari pipiku
dan kau akan menyebutnya sebagai keringat juang.
 
Sebentar lagi akan ada nyawa yang hilang
dan sebentar lagi pula aku akan hilang,
tapi darah dan keringat kubiarkan tertinggal
biar kau dapat lihat sewaktu mengenang aku.
 
Setelah ini,
aku tak butuh apa-apa darimu,
hanya ingin kau tetap menatap
darah dan keringat yang kutinggal 
sebagai kenang-kenangan kita.
 
(Kuwu, 2021)
 
 
Jubah

Sebenarnya aku mengenangkan jubah ini,
bukan berarti tidak memilihmu 
sebagai satu-satunya wanita tercantik yang pernah kujumpa.
Bukan, bukan itu maksudku.
Aku mencintaimu, sungguh, dan itu maksudku.
 
Aku hanya tak ingin cantikmu pudar,
lantas aku mengenangkan jubah ini agar kau bisa kubawa dalam doa
dalam permohonan; agar cantik tak cepat pudar
dan aku percaya doaku itu terkabul, jika jubah ini kukenang.
Itu, maksudku.

(2021)
 
Jubah 02

Aku ingin singgah
pada angka yang menghuni paling bawah di jam-jam dinding, 
hanya sebentar saja, cukup sore ini.
 
Aku ingin menyapa wajah cantikmu
sebelum aku menjahit tubuhku dengan jubah yang kukenang ini.
 
Aku ingin bercerita sedikit pada cantikmu
bahwa aku ialah penonton paling teliti di setiap pertunjukan kosmetik di wajahmu, yang kerap kupuji.
 
Aku ingin menatapmu sedikit saja,
lantas izinkan aku bersinggah,
sebelum aku mendaki jarum jam yang bertanjakan 
dan sebelum gelap benar-benar menutupi cantikmu.


Penulis: Faldo Mogu. Penulis adalah seorang pelajar SMA. Aktif mengikuti berbagai perlombaan sastra dan beberapa karyanya telah lolos dalam berbagai perlombaan. Selain itu penulis juga aktif menulis di media lokal dan nasional, seperti KOMPAS.ID. Cerpen pertama berjudul JANJI telah dipublikasikan di Kompas pada 24 Juli 2021. Penulis juga telah menerbitkan buku berjudul GADIS PENGHUNI BUMI( Megalitera, 2021).

0 Komentar