Era digitalisasi ini sangat membantu dan mempermudah kita dalam menulis, yang walaupun sebenarnya banyak masalah muncul. Hal ini disebabkan literasi menulis kita sebagian besar hanya berisi dongeng, mitos, gosip, bualan, dan ujaran-ujaran kebencian yang tak berfaedah.

Idelando.com-Keabadian adalah cita-cita semua orang. Penguasa ingin jabatannya abadi, orang-orang kaya mau kekayaannya abadi, dan orang beragama mau hidup abadi setelah mati. Kalangan remaja  SMP dan SMA, nama yang terkenal dan terkenang abadi di sekolah juga adalah cita-cita. Demi mewujudkan itu, meja, kursi, bangku, tembok, dan seperangkat alat-alat sekolah harus bisa menjadi prasasti. Intinya di muka alat-alat itu, harus ada nama 'saya' yang akan dikenal dan dikenang oleh generasi sekolah kemudian.

Meski terkenal rendahan secara aksara, orang-orang kita gemar menganggap tulisan sebagai cara mengabadikan nama. Setiap orang selalu punya cara membuat prasasti agar namanya terkenang, apalagi di tengah musim corona yang membuat orang makin akrab dengan smartphone. Sebagian besar orang makin aktif menulis apa saja di media sosial, tentu dengan penekanan pada nama sebagai identitas utama netizen itu.

Verba volant, scripta manent

Sebagai alat komunikasi, bahasa sudah dikenal sejak adanya manusia. Umur bahasa sama dengan umur spesies manusia. Bersama bahasa, manusia bertumbuh dan semakin paham bahwa bahasa harus dilestarikan demi kelangsungan hidup bersama. Selama berkembangannya, muncul juga keterbatasan tertentu, terutama dalam hal bagaimana ungkapan-ungkapan bahasa bisa abadi.

Setelah bahasa diucapkan, pada detik berikutnya manusia tidak bisa membuktikan bahwa si A pernah mengucapkankan bahasa itu. Kebiasaan dan pengalaman seperti ini, kemudian melahirkan keluhan; “Dasar penipu, lidah memang tak bertulang!” Lidah memang tak bertulang, tetapi kata-kata tentu bisa diabadikan jika dicatat sebagai tulisan. Sebab, verba volant, scripta manent; “ kata-kata lisan terbang, tulisan tinggal tetap”. 

Berbeda dari tuturan lisan, media tulisan tentu saja akan mengabadikan pesan komunikasi secara lebih awet. Tanpa tulisan, kita akan sangat kesulitan mengidentifikasi peristiwa-peristiwa sejarah, apalagi yang terjadi ribuan tahun lalu. Hanya karena tulisan, hari ini kita masih bisa mengenal nama-nama seperti Aristoteles, peletak dasar ilmu-ilmu politik yang hidup di Yunani sebelum penanggalan Masehi dimulai. Tanpa tulisan, Kitab Suci atau  cerita-cerita tentang Yesus tidak akan bertahan lebih dari 50 tahunan sebelum akhirnya dianggap sebagai mitos belaka. Verba volant, scripta manent!

Pramoedya Ananta Toer pernah menjelaskan hubungan antara menulis dan keabadian manusia. “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah”, demikian kata-kata sastrawan kondang yang menghabiskan banyak waktunya di penjara karena gemar menulis. Pram tentu benar ketika mengingatkan kita bahwa kepandaian yang tidak diabadikan dalam tulisan pastinya akan sia-sia.  

Selain sia-sia, kepandaian yang dituturkan secara lisan lama-kelamaan hanya akan menjadi dongeng dan gosip. Ilmu pengetahuan yang tidak diarsipkan sebagai tulisan akan menjadi mitos. Dongeng dan mitos ini, isinya tidak pernah bisa dituntut kebenarannya atau paling kurang bisa dipastikan kevalidannya (sah). Pastinya, dari sana hanya ada hiburan dan pesan moral yang diperoleh , bukan ilmu pengetahuan yang segera bisa dipraktikan dalam kenyataan hidup. 

Sementara itu, dalam ilmu politik Vladimir Ilyich Ulyanov alias Lenin (1921) yang merupakan seorang politisi kiri Uni Soviet menggambarkan dengan sangat baik betapa literasi menulis amat diperlukan: “Tanpa literasi tidak akan bisa ada politik; tanpanya hanya ada desas-desus, gosip, dongeng, dan prasangka, tapi bukan politik.” Maksud Lenin tidak lain adalah hanya ada satu cara utama untuk membuat politik menjadi ilmu yang patut dipelajari dan dikembangkan. Caranya adalah dengan menulis atau membuat ide-ide tentang politik yang tertuang dalam tulisan, dengan begitu, cita-cita politik tidak hanya menjadi dongeng atau gosip, apalagi bualan.

Melompat ke jagat digital

Sayangnya, gejala yang terjadi saat ini adalah lompatan yang cukup jauh dari masyarakat lisan menuju masyarakat digital. Belum sempat menjadi masyarakat yang literate, kita langsung ramai-ramai memasuki gerbang digitalisasi. Era digitalisasi ini sangat membantu dan mempermudah kita dalam menulis, yang walaupun sebenarnya banyak masalah muncul. Hal ini disebabkan literasi menulis kita sebagian besar hanya berisi dongeng, mitos, gosip, bualan, dan ujaran-ujaran kebencian yang tak berfaedah.

Pram tidak salah bahwa tanpa budaya menulis, orang-orang pandai tidak akan memiliki tempat dalam sejarah. Pertanyaannya adalah sejarah macam apa yang kita ukir di jagat maya saat ini? Sejarah yang kita tulis adalah cerita-cerita rendahan tentang hal-hal yang tidak berguna bagi kemajuan adab manusia. Sejalan dengan istilah andalan Rocky Gerung, cerita-cerita sejarah kita berisi ‘kedunguan’ yang disebarkan demi kepuasan diri dan luka menganga di hati sesama. Meski begitu,  verba volant, scripta manent; kata-kata lisan terbang, tulisan tinggal tetap! Kita sendiri yang menentukan sejarah macam apa yang kita tulis selama hayat masih dikandung badan.

Penulis    Anno Susabun, penulis amatir yang selalu jadi pemula abadi
Editor      Ry Fatima
Ilustrator : Rudi Herwanto

0 Komentar