Idelando.com-Ada banyak demonstran. Tiap demonstran memiliki kisah masing-masing. Banyak demonstran yang berdemo menuntut keadilan bagi orang lain sementara dirinya tidak diperlakukan adil. Ada juga demonstran yang ingin menyembuhkan luka orang lain sementara jauh di dalam dirinya luka masih basah.

Jangan kira ini cerita tentang Soe Hok Gie. Gie memang merupakan demonstran yang mati muda. Tetapi sekali lagi. Jangan kira ini cerita tentang Gie. Puluhan tahun yang lalu Gie menghembuskan nafas terakhir ketika masih di gunung. Ia menghirup gas beracun di gunung itu.

Sejak kepergian Gie, banyak yang dibuat haru oleh kisah hidupnya. Banyak demonstran kekinian yang kemudian menjadikan Gie sebagai teladan. Aku perlu memberi tahu lebih awal. Ini cerita tentang seorang demonstran yang meneladani Gie.

***

Sejak SMA, ia dikenal pemuda yang idealis. Pendiriannya teguh. Meski berkomplot dengan remaja-remaja yang tergolong bandel, ia tetap tak berubah. Ia benar-benar menjadi dirinya sendiri dalam berlaku dan bertingkah.

Dalam komplotannya, hanya ia saja remaja yang tak mengisap rokok setiap kali ada kesempatan nongkrong. Ia juga tidak banyak bicara. Lebih banyak mendengar dan melihat apa-apa yang terjadi di sekitarnya.

Seringkali ia dibilang tak gaul karena tak merokok. Yang mengatainya demikian ialah teman-temannya sendiri. Tak jarang juga ia dikatai tak gaul sebab tidak memiliki motor, baju yang serba murah, masih mengenakan celana keluaran lama, dan masih banyak lagi lainnya.

Tetapi tetap saja ia tidak berubah dalam bersikap. Betapa pun ia dikatai senonoh. Tingkahnya tetap tidak berubah sama sekali. Sebelum mengidolakan Gie, ia menggemari karya tangan Ch. Anwar, Sapardi, Jokpin, Seno Gumira, Agus Noor, Aan Mansur, Faisal Oddang dan beberapa lainnya. Tidak bisa disebutkan semua sebab ia banyak mengidolakan penulis, sastrawan dan tokoh-tokoh berkesan lainnya ketimbang mengidolakan artis.

Dalam beberapa kartu identitasnya, tercatat bahwa ia lahir pada April 2004. Tanggal kelahirannya ia larang untuk disebutkan dalam cerita ini. Maklum, ia tak suka mendengar orang mengucapkan selamat ulang tahun ketika ia tiba di tanggal kelahirannya. Ia tidak suka kado pemberian siapa pun kecuali jika dipaksa menerima.

Sebelum resmi ingin mati muda, ia terlibat dalam urusan percintaan. Ia mencintai seorang perempuan sedalam nadi. Ia beri kasih sampai habis. Sampai tidak ada lagi yang tersisa pada dirinya. Aku harap kau tidak banyak bertanya ketika membaca ini. Maklum saja, ia demonstran dari generasi Z. Generasi yang tak berlebihan bila disebut generasi patah hati.

Tahun-tahun awal duduk di bangku SMA, ia mulai berkenalan dengan seorang gadis cantik. Kalau memang menurutmu tidak cantik, tetapi baginya gadis itu adalah hawa paling cantik yang pernah ada. Awal perkenalan mereka seolah terjadi serba kebetulan. Keduanya saling mencintai. Kemudian resmi menjadi sepasang kekasih.

Tetapi setelah satu tahun, mereka dihadapkan pada rumit ribetnya relasi sebagai sepasang kekasih. Parahnya, mereka tak mampu bertahan. Tepat seperti yang kau kira. Mereka akhirnya berpisah.

Sejak itu, ia mulai mengalami realitas yang serba sulit. Sering galau. Tiba-tiba berdoa sekalipun ia sedang berdosa. Tiba-tiba pegang dada. Tangannya mengepal. Entah ada apa dengannya. Setiap tengah malam, sering ia menangis sendiri. Ia tidak percaya bahwa lelaki adalah superhero yang tak menangis. Ia tak percaya bahwa ada superhero yang tidak menangis. Baginya sama saja, superhero juga pasti menangis ketika hati dan harinya teriris.

Karena itu semua, ia mulai ingin sekali mati muda. Mencari-cari cara agar dibunuh. Tetapi bukan dibunuh oleh sembarang orang. Ia ingin mati dibunuh oleh pihak pemerintah. Untuk mewujudkan itu semua, ia mulai rajin mengkritik pemerintah. Sering ia ambil jalan kiri jika berhadapan dengan pemerintah.

Ia mulai memperkenalkan dirinya sebagai Gie. Sekecil apapun kesalahan yang dibuat pemerintah pasti akan dikritiknya. Terlebih pemerintah daerah yang menurutnya tidak becus dalam mengurusi daerah tempat tinggalnya. Sebagai Gie, ia mengaku tidak mencintai perempuan mana pun. Ia tidak lagi. Seperti kapok. 

***

Tepat hari ini, ia berdiri sebagai orator dalam demonstrasi bersama kawan-kawannya. Ia mengenakan baju hitam yang bagian depannya bertuliskan “Lintah Darah adalah Pemerintah Kita”. Ia berbicara dengan semangat yang sepenuhnya terbakar.

Sekitar tiga jam penuh mereka berdemo di depan kantor Kepala Daerah Kabupaten. Aksinya membuat kagum banyak orang sebab gerombolan demonstran yang bersama dengannya sama sekali tidak membuat ricuh. Demonstrasi berjalan sebagaimana layaknya demonstrasi yang dilakukan para civitas academica.

Mereka tidak membakar ini itu milik pemerintah. Tidak membakar mobil-mobil mahal para pejabat. Mereka hanya menyerang pemerintah dengan kata-kata yang tentu saja tak mempan. Sebab pemerintah, sekalipun dikritik tetap akan berbuat salah. Bahkan mengulangi kesalahan yang sama, misalnya korupsi.

Ketika sedang berbicara lantang, ia tiba-tiba terjungkal dari tempatnya berdiri. Di dadanya bersarang dua peluru. Bukan peluru karet. Tetapi peluru yang sesungguhnya. Sebelum matanya tertutup rapat, ia sempat berteriak “Aku selesai tapi jangan berhenti. Cita-citaku sudah aku gapai. Aku mati muda. Teruskan apa yang perlu.”

Semua kawannya mendadak memberontak. Aksi demonstrasi semakin gaduh. Kawan-kawannya mengamankan jenazahnya di salah satu gedung. Lebih tepatnya rumah orang miskin yang tentu saja tak layak disebut gedung sebab sebutan gedung hanya cocok untuk bangunan megah seperti yang dimiliki para pejabat.

Kantor Kepala Daerah berubah halamannya menjadi seperti halaman-halaman api. Setiap jarak satu meter pasti ada nyala api. Demonstran itu semakin brutal. Tidak terima jika “Gie” mereka mati muda.

Diketahui mereka melakukan aksi demonstrasi lantaran para pemerintah daerah yang secara paksa akan mengeksploitasi tanah milik masyarakat. Dengan dalih mengeruk hasil bumi demi kesejahteraan bersama, pemerintah daerah sering mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan suara rakyat. Suara teriakan rakyat memang selalu terdengar sayup-sayup saja di telinga pemerintah jika rakyat mengusik kemapanan para pejabat.
 
***

Aku melihat orang-orang menangis. Kawan-kawanku hadir semuanya. Mereka berdesak-desakan ingin menyentuh tubuhku yang kaku. Aku menyaksikan semua itu dari tempat yang tidak begitu jauh.

Aku melihat lagi perempuan itu. Ia menangis seperti orang yang sedang dalam sedih paling sengsara. Aku menatapnya dalam-dalam. Aku masih tidak percaya bahwa ia akan menangis ketika aku mati. Aku tidak percaya kalau ia akan sesedih itu. Toh sekian tahun lalu ia sendiri yang memilih berpisah.

Tetapi ini yang paling sengsara. Berkali-kali aku melihat mama pingsan. Berkali-kali aku melihat mama tumbang di sebelah jenazahku. Aku mengerti, mama yang merasa paling kehilangan. Pasti mama tidak terima jika aku, yang pernah ada di rahimnya selama sembilan bulan, mendahuluinya menutup mata. Kembali ke tanah. Semoga mama tidak menyesal karena telah melahirkan aku.
Aku turun dari tempat yang agak tinggi itu. Aku memeluk mama. Menangis di pundaknya. Tetapi mama tidak ambil pusing. Sekalipun aku mempererat pelukan. Aku mencium wajah mama. Membasuh air mata di pipinya. Tetap mama tidak peduli. Mama tidak ambil pusing. Ketika itu juga, aku sadar telah berada di dunia lain.

Aku mendekatkan bibir ke arah telinga mama. Membisikkan rahasia kematianku: “Mama, aku bercita-cita mati muda. Aku mati ditembak temanku sendiri. Mungkin mama ingat. Temanku yang tahun lalu resmi menjadi polisi. Aku memasang sendiri dua peluru pada senjatanya. Aku memintanya menembaki dadaku ketika aku sedang berorasi. Ia melakukan seperti yang aku minta, ma. Tetapi jangan mama marahi dia. Dia telah membantu aku mewujudkan cita-citaku.”

Selanjutnya aku dibawa oleh orang-orang berpakaian serba putih. Dibawa ke tempat yang tak aku kenal. Aku mendengar banyak orang di dunia berterima kasih kepadaku sambil berteriak-teriak “Demonstran itu mati muda”.

Penulis: Apri Bagung

0 Komentar