Idelando.com-Nyatanya, rindu tak mudah ditipu kesibukan. Rasa itu tetap ada walau aku menutup semua rongga di perasaanku. Bertahun-tahun kita berkomitmen menjalin kisah, bukan kisah asmara, hanya pertemanan biasa, aku yang terlalu berharap lebih dan bahkan melangitkan harapan tuk bersamamu, entah kamu anggap aku siapa?

Di suatu pagi tak sengaja aku berpapasan denganmu, tepat awal Maret kita kembali bersua setelah bertahun-tahun lamanya, kali ini kau datang bukan sebagai sosok siswa putih abu, tapi kau sebagai mahasiswa  tingkat akhir yang sibuk berkelana dengan tulisan akhirmu. Masih saja begitu senyummu membuat duniaku lebih cerah. Tatapan matamu tak berubah terlihat sederhana namun tulus. Aroma parfummu tetap saja sama, dengan celana jeans hitam andalanmu, atasan kaus oblong hitam dan alas kaki swalow  menambah terpancar indahmu. Kau masih saja begitu, dengan mudahnya membuatku jatuh cinta berkali-kali. Kukira kamu datang dengan segala kepastian, tapi aku salah!

Di bawah naungan pohon beringin, kita menikmati setiap hembusan angin yang seolah paham ada dua orang yang tak ingin pertemuan ini segera berakhir. Burung-burung berkicau seolah-olah berbicara. Sejuknya tiupan angin dan gemuruhnya suara air berbaur dengan suasana yang begitu sempurna.

Aku terlalu banyak berharap pada kisah yang telah kita lalui, terlalu meyakinkan diri bahwa kelak aku dan kamu akan menjadi kita, terlalu berharap bahwa kita memiliki rasa yang sama. Kisah yang ternyata tertata rapi oleh ikatan pertemanan, tapi bagaimana dengan aku? Apa kau tahu sebuah rasa yang datang kusebut jatuh cinta? Bagaimana dengan rasa yang menghampirimu apakah kau sebut jatuh cinta juga? Atau hanya sebatas yahhh dalam diammu tak pernah kutemukan jawaban sama sekali. Sedang aku, di penghujung malam bayanganmu masih saja betah dalam ingatan dan berharap terselip namaku dalam untaian doamu. Sebab, namamu masih saja ada di setiap sujud malamku. Mencintaimu dalam lantunan-lantunan doa tanpa aksara.

Yah, terlalu berharap adalah patah hati yang sengaja dibuat! Aku terlalu mudah jatuh cinta, tapi sulit melupakan. Berkali-kali patah hati, tetap saja ada harapan yang sama. Entahlah Mencintaimu sama halnya dengan merawat luka. Aku paham betul bagaimana rasanya kehilangan sebelum memiliki. Aku sedang tidak patah, tetapi bingung kenapa hati susah sekali diajak bicara. Sudah tahu sakit tapi rela jatuh berkali-kali.

Memilikimu itu bukan sebuah keharusan biar aku saja yang rindu. Simpan rindumu untuk orang lain. Kukira Maret adalah awal yang baik, ah lagi-lagi aku salah. Komitmen bukanlah jaminan langgengnya hubungan tanpa kepastian. Kita komitmen “Jalani saja dulu, bukan sebagai teman atau pun sebagai pacar, namun sebagai kita. Intinya selesaikan dulu tujuan kita masing-masing” katamu Januari 2021. Aku mencintai dalam diamku, melangitkan harapan bersamanya, namun belum sempat memiliki, Maret merenggutnya dariku dan memberikannya pada orang lain.

Maret, dengan mudahnya merenggut dia dariku. Tiba-tiba saja “Enu, doaku sekarang terjawab aku menemukan sosok yang menurutku bisa memahami semua tentangku”. Seketika aku terdiam, aku tahu arah pembicaraan kami, menyakitkan bukan? Suara yang dulu sering menyapaku dan menidurkanku sebelum bermimpi kini beranjak ke lain hati. Merayakan kepergian tanpa pamit kukira semua kita paham maksudnya. Semenjak hari itu kami seperti dua orang asing yang saling mendoakan untuk saling melupakan. Bukan kami tapi aku. Kini, jika rindu aku hanya bisa membaca ulang pesan singkat kita, sebab ada rindu yang tak sengaja datang, datang tanpa diberi kabar terlebih dahulu. Beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi. Diam-diam aku merindu sedang kau bersua dengannya. April, Maret telah berlalu dengan lukanya sendiri. Cukup Maret yang merangkul luka pada hati yang senantiasa pura-pura baik-baik saja, semoga hal-hal baik terjawab di bulan April. Aku perlahan paham bahwa puncak mencintai adalah mengikhlaskan, merelakanmu seutuhnya adalah hal yang harus kudapat setelah mencintaimu.

Perihal kita

Aku paham tentang cinta, tidak harus tentang kita, sebab kata kita terlalu manis untuk dua orang yang tidak saling memiliki.

Penulis: Konstantina Delima

1 Komentar

B aja mengatakan…
Masih banyak perlu dikembangkan agar pembaca lebih terkesan lagi.