“Masakan hidup ini mesti mengikuti apa yang ada dalam gelas. Adakah manusia sekarang sudah gila? Percaya begitu saja pada apa yang sungguh tidak jelas”

Idelando.com-Aku terkejut, ketika sang kakek mengeluarkan suara, melontarkan kata yang bagiku cukup kejam. Aku seperti dihakimi oleh kata-katanya itu. Dia membuat perasaanku tak tenang lagi, ada sedikit dilema yang meronta-ronta dalam pikiran. Benarkah aku ini seorang pembunuh seperti yang dikatakannya? Ataukah dia hanya mengarang-ngarang, supaya aku takut, cemas atau apalah yang membuat gemetar itu?

Sungguh, kedatangannya sore ini membawa malapetaka besar bagi aku dan sekeluarga. Seandainya saja ayah tak mencoba untuk mengajaknya singgah kemari, mungkin tak akan ada penghakiman ini pada diriku. Aku dan sekeluarga mungkin baik-baik saja, dan dia juga tetap lancar beraktivitas, datang ke sana kemari, mengetuk pintu tiap rumah yang mungkin membutuhkan tenaganya untuk menjahit sepatu atau apalah yang perlu untuk dijahit. Tapi ayah selalu mengingatkan saya  bahwa melayani orang seperti dia itu akan membawa keberuntungan.

“Dia itu malaikat, Nak. Kita harus melayani dia apa adanya, supaya kelak kita ini dilimpahkan berkat” kata ayah, sewaktu aku mengeluh ketika disuruh membuat kopi untuknya dan si kekek penjahit itu. Aku yang tak tahu apa-apa hanya angguk-angguk saja, mungkin benar bahwa orang sepertinya adalah malaikat.

“Siapa tahu? Saya hanya tau melayani saja”

***

“Silakan diminum, Kek” kataku sambil menyodorkan segelas kopi kepada sang kakek. Aku tampil ramah di hadapannya, karena dalam pikiranku masih berkeliaran kalimat yang pernah ayah ungkapkan kepadaku: Dia itu malaikat, Nak. Tapi aku pikir, ke setiap tamu juga mesti bersikap demikian.

Setelah aku menyodorkan segelas kepada sang kakek, aku juga meletakkan segelas kopi tepat di depan tempat yang ayah duduk. Aku lihat tangan kiri ayah meraihnya penuh semangat, sambil tangan kanannya menyodor sebungkus rokok kepada sang kakek.

Aku pikir usianya yang sudah menginjak senja, akan takut dengan gambar yang terdapat di tampilan depan bungkusan rokok itu. Tapi sayang, sangkaku salah, sang kakek meraih bungkusan itu dengan sangat sempurna. Ia membuka  bungkusannya, mengambil sebatang rokok, lalu membakarnya dan menghisap sedalam mungkin kemudian menghembusnya lewat dua lubang hidung, yang sudah dimakan usia.

Aku, kemudian bergeser ke sudut ruang tamu sambil membawa segelas kopi yang menjadi jatahku, dari sudut ruangan itu aku terus memperhatikan keduanya, mendengarkan perbincangan mereka yang sungguh membosankan bagiku. 

“Sudah berapa lama Kakek bekerja menjadi penjahit?” ayahku bertanya mengawali percakapan keduanya, setelah satu dua teguk berhasil diminum.

Aku pikir ia sudah lama menikmati pekerjaan ini. Tapi setelah ia bercerita panjang lebar, aku baru tahu ternyata sang kakek adalah korban PHK di masa pandemi ini. Ia mesti menjalankan pekerjaan ini, lantaran pemerintah tak pernah melihat dan mendengar jeritannya.

Ia mesti menjalankan pekerjaannya ini, karena ia tak pernah mendapat bantuan apa pun untuk menopang hidupnya dan sekeluarga, padahal ia harus menafkahi istri dan dua orang anaknya.

Sungguh malang sekali nasibnya, bisikku dalam hati. Dengan keberadaannya yang menginjak usia senja ia mesti melakukan pekerjaan ini, berjalan dari rumah ke rumah, menawarkan kepada setiap orang yang membutuhkan jasanya.

Aku mesti bersyukur dengan keadaanku saat ini, mesti ibu sudah pulang terlebih dahulu meninggalkan aku dan ayah. Walaupun ayah yang emosian selalu saja memukul aku, lantaran sikap onarku di sekolah yaitu berantam dengan teman-teman, sampai ada yang terluka parah. Itu semua aku syukuri dengan sangat.

Aku berpikir hidupku masih cukup baik dibandingkan hidup yang dialami sang kakek ini. Aku bayangkan di tengah kenaikan barang-barang saat ini, pasti ia akan lebih tersiksa dan terbebani.

Namun sang kakek tampaknya menikmati saja hidupnya ini, dari sudut ruangan tamu aku selalu memperhatikannya, mulai dari perbincangannya dengan ayah, cara ia menghisap rokok, meminum kopi sampai dengan raut wajahnya. Aku sama sekali tak menemukan adanya sebuah beban hidup yang sedang ia pikul. Atau barangkali ia berpura-pura baik-baik saja.

“Sudahlah, toh tak ada yang benar-benar tau soal beban hidup”

***

Setelah keduanya telah berbicara panjang lebar, aku melihat tangan kanan sang kakek meraih gelas kopi yang tadi diminum oleh ayah. Ia meraih gelas yang tersisa ampas itu, lalu matanya yang sedikit seperti orang mengantuk, mengamati isi gelas kopi yang baru saja diminum oleh ayahku. Aku tak mengerti apa yang ia buat.

Dari sudut ruangan tamu itu aku tetap mengamatinya, sambil menghabiskan jatah kopi yang kupunya. 

“Kamu ini seorang pemarah” katanya kepada ayah, sambil terus mengamati gelas itu. Lalu kemudian ia menyarankan ayahku untuk mesti mengontrol emosi, karena jika tidak akan lebih berbahaya, katanya. Sedangkan sang ayah, aku melihatnya mengangguk penuh percaya.

Dalam hati aku berkata, bahwa sang kakek ini mampu melihat pribadi seorang dari gelas kopi saja. Buktinya, apa yang ia katakan tentang ayah sangat tepat. Ayahku memang seorang pemarah, dan jika ia marah ia tak segan-segan memukul atau pun menyiksa seseorang, walaupun masalahnya hanya sepele. Mungkin itulah sebabnya sang kakek menyarankannya untuk mengontrol emosi. Karena tahu kemarahannya akan memperbesar masalah.

Perbuatan kakek yang satu ini, sontak membuatku berdiri dari sudut ruangan tamu, dan kemudian menyodorkan gelas punyaku untuk dilihatnya. Matanya kemudian mengamati gelas punyaku.

“Kau ini seorang pembunuh” katanya memvonisku. Aku kaget tiba-tiba saja aku dikatain pembunuh. Aku kemudian meminta penjelasannya lebih lanjut, terkait maksud dari perkataannya itu. Karena aku bahkan tak pernah melakukan tindakan sekejam itu.

Namun belum saja aku habis bicara meminta keterangan lebih lanjut darinya, tiba-tiba saja sang ayah langsung mengambil seluruh pembicaraan. “Siapa yang mengajarimu menjadi pembunuh?” Siapa yang kau bunuh? Mengapa kau melakukannya?” Berbagai pertanyaan dilontarkan kepadaku, diikuti oleh kata-kata kotor yang tak semestinya dilontarkan oleh orang sepertinya. Aku tahu ia merasa malu dengan sang kakek yang sudah mengetahui kehidupan keluarga. Mungkin itu sebabnya ia marah padaku, sampai emosinya tak terkontrol lagi.

Berapa kali aku mencoba untuk menenangkan emosinya supaya tidak mempercayai suatu hal dengan begitu saja, juga supaya sang kakek bisa berbicara sejelas-jelasnya. Apakah maksudnya aku ini sudah membunuh orang, ataukah kelak aku ini akan menjadi seorang pembunuh. 

Sayangnya aku malah ditendang dan mendapat pukulan yang tidak bisa kutahan. Kursi kayu dan meja yang terdapat di ruangan tamu semuanya patah di badanku, sedangkan  gelas-gelas yang tadinya dipakai untuk minum dan melihat kehidupan seorang kini sudah pecah berkeping-keping. Keadaan semakin menjadi-jadi, aku tak berani mau meminta tolong kepada siapa pun karena kutahu itu akan mengundang kemarahan yang jauh lebih dahsyat dari ayah.                    

Sementara aku sedang dipukul dan ditendang, aku melihat sang kakek perlahan-lahan meninggalkan ruangan tamu dan kemudian lari menjauh dari rumah tanpa membawa peralatan jahitnya. 

Sedangkan berbagai kata kotor  terus melukai hatiku yang tak tahu apa-apa tentang pembunuhan. Sungguh, nasibku dibunuh oleh segelas kopi saja, yang kebenarannya belum tentu ada. Tapi ayah yang mempercayai penuh itu, tidak bisa lagi menahan emosinya, yang ia tahu anaknya seorang pembunuh. Lantas ia memukulkup sampai darah keluar dari lubang hidungku. Padahal sang kakek belum sepenuhnya menjelaskan apa yang ia lihat tentang hidupku dalam gelas kopi itu.

Aku tak tahu sampai kapan ayah berhenti memukul dan menendangiku. Aku pasrah menghadapi ayah, tubuh ini kubiarkan ia makan semaunya saja, sampai ia lelah. Tapi sayang, makin lama aku menahan semua pukulannya, makin bertambah amarahnya, ia tak puas memukul, menendang dan membanting tubuhku di atas lantai. Aku melihat ia akan melakukan hal yang lebih sadis lagi. Ia mencoba berjalan ke arah dapur, tak tahu untuk apa ke sana. Aku mencurigainya akan melakukan yang tidak-tidak.

Aku mengikutinya dari belakang, sambil membawa sebuah jarum jahit dan sebuah gunting yang ditinggalkan oleh sang kakek tadi. Tubuhku yang tak bertenaga lagi, mengikutinya dari belakang. Aku melihat tangannya meraih pisau yang ada di meja dapur.

Dugaanku benar, ia mau membunuhku. Dengan penuh ketakutan aku bersembunyi di balik pintu dapur, menunggu ia lewat. Begitu aku lihat tubuhnya melewati satu langkah dari pintu, aku dengan tenaga yang tersisa menusuk tubuhnya dari belakang, sampai ia pun terkapar pasrah di bawah lantai dapur dan mati.

Darah pun merembes di lantai dapur, membuat tubuhku semakin gemetar, aku menangis histeris ketika melihat orang satu-satunya yang kupunya di dunia, kini sudah mati dibunuh oleh anaknya sendiri. Aku dengan penuh amarah, kemudian bangkit berdiri dan mengambil pisau yang ada dalam tangan sang ayah, lalu pergi mencari tukang jahit yang menjadi awal semuanya ini.


Penulis: Faldo Mogupenulis aktif menulis di berbagai media. Cerpennya pernah dimuat di Kompas.id dan pernah meraih juara 2 dalam lomba menulis puisi tingkat nasional yang didengarkan oleh Kraetivi_Seni. Buku pertamanya ialah buku kumpulan cerpen dan puisi dengan judul Gadis Penghuni Bumi (2021).

0 Komentar