Idelando-Ibu sering membuat kokis ené. Kokis ené merupakan warisan nenek kepada anak-anaknya, terutama empat anak gadisnya. Nenek—di kampung bernama Manus—rajin sekali membuat kokis ené. Menjelang sore, Nenek Lusia mulai sibuk membuat kokis ené di dapur. Jika kokis ené telah siap, dipanggilnya orang rumah agar ke dapur untuk minum sore bersama, di atas bale-bale bambu yang dibuat Nenek Anton dengan rapi dan kokoh. Begitulah ibu berkisah tiap kali kami duduk berkumpul menikmati kokis ené di rumah.

Ibu seperti nenek. Saat-saat tertentu, ketika hari mulai sore, ibu sibuk di dapur untuk membuat kokis ené. Jika kokis ené telah siap, dipanggilnya salah satu dari tiga anak gadisnya untuk membantu membuatkan kopi dan tea. Kami pun berkumpul di ruang televisi tempat kami sekeluarga minum sore bersama. Namun, tempat favorit saya adalah dapur atau ruang makan, karena tak terganggu televisi. Saya bisa mendengar ibu atau bapa bernostalgia: masa kecil, remaja, dan bagian favorit saya tentang nenek dan kakek. Saya dan ketiga saudari saya hampir tidak pernah mengalami hidup dan tinggal bersama nenek dan kakek.

Kokis ené yang orisinal adalah kokis ené yang bahan utamanya tepung beras. Namun, oleh karena tempat untuk menggiling beras jauh dari rumah, ibu membuat kokis ené dari terigu karena mudah didapat, tetapi bukan berarti kokis ené buatan ibu tidak enak. Ibu mempunyai formula rahasia yang membuat kami selalu berebut-rebutan kokis ené.
Di Manus, kami makan kokis ené versi Manus, dan di Ruteng kami makan kokis ené versi ibu. Kokis ené versi ibu diolah dengan cara yang sedikit modern menggunakan beberapa bahan tambahan. Kokis ené versi nenek hanya menggunakan tepung beras dan gula. Ya, zaman dulu yang mudah ditemukan hanya tepung beras dan gula, tetapi ibu membantah pendapat saya. Kata ibu, kokis ené yang asli tetap versi nenek.

“Kokis ené asli Manus itu dari tepung beras dan gula. Dari waktu ke waktu sudah mulai membuat kue jenis lain, yang dibuat dari bahan yang hampir sama, seperti roti goreng, tetapi tidak disebut kokis ené. Omong kokis ené pasti ingatnya ke tepung beras dan gula.” jelas ibu.

Saat di bangku SMP, saya menemukan kue yang mirip dengan kokis ené di kantin sekolah maupun kios di luar lingkungan sekolah. Penjual menyebutnya kue goreng. Begitu juga ketika SMA, saya menemukan kue yang mirip dengan kokis ené di kantin sekolah, tetapi dengan ukuran yang lebih besar dan menggumpal. Penjual menamakan itu kue ramas. Di situlah letak keunikannya, kami mempunyai nama yang khas dan komposisi bahan yang terlalu sederhana.

Untuk membuat kokis ené tidak dibutuhkan biaya mahal. Cukup bermodalkan 10.000 rupiah bisa membeli terigu untuk membuat kokis ené dua sampai tiga kali. Jika ingin membuat kokis ené yang orisinal, tinggal menggiling beras. Kadang kami tak perlu membeli terigu lagi, karena masih ada sisa terigu yang ibu simpan rapat di lemari. Sisa dari membuat kue untuk arisan atau merayakan Natal dan Tahun Baru. Jadi, kami masih bisa hemat.

Ibu memperkenalkan kokis ené kepada tetangga untuk pertama kali pada 2015. Ketika itu kami sedang membangun rumah tempat tinggal. Ibu membuat kokis ené untuk menemani kopi para tukang saat istirahat minum. Namun dengan sedikit ragu: Mereka makan tidak e? mereka suka tidak? asa keta?

Puji Tuhan, kokis ené mendapat sambutan yang baik. Kata mereka enak dan kokis ené makanan baru bagi mereka.

“Ho’o ata werun kole ge, apa ho tanta? di’a keta woko hang.”

“Hahaha tuung aw? asa keta? ho’o iw kokis ené dami ata Manus?”

“Com pande terus lite daripada weli kue neho meseng sio.”

Ibu membuat kokis ené lebih banyak pada sore hari dibanding pagi hari, karena pada sore hari tetangga berdatangan untuk melihat-lihat pembangunan rumah kami. Waktu itu, saya meniti karier baru sebagai pengamat. Alhasil, jika yang disuguhkan adalah kokis ené, piring selalu bersih tanpa remah-remah, tetapi jika yang disuguhkan adalah kue yang dibeli di toko, selalu saja sisa dua atau tiga kue di piring. Kabar baik bagi ekonomi keluarga, karena kami tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk membeli kue di toko. Rajin-rajin beli terigu sa, yang biayanya lebih murah.

Ingatan paling indah tentang kokis ené yaitu pada 2016. Kami sekeluarga sepakat membuat kokis ené saja dalam menyambut tahun baru 2016. Sambil menanti tahun baru, ibu menggoreng kokis ené satu rantang besar. Kami pun makan tanpa sisa di teras rumah sambil menikmati nyala kembang api di langit Ruteng.

Begitulah kokis ené. Ia memanggil kembali hal yang kita lupa, dan ingatan paling baik adalah “ibu”. Kokis ené adalah buatan ibu. Itu sebabnya dinamakan kokis ené ‘kukis buatan ibu’. Ibu yang melahirkan kokis ené. Tanpa ibu, tak akan ada sebuah tempat tuk mengenang dan berlabuh dari kerinduan.

Ketika menikmati kokis ené, tercipta narasi dalam pikiran tentang sesosok wanita yang sedang membuat adonan, menyiapkan perapian, mengatur tungku, membelah kayu, meniup bara api, menggoreng, sehingga lahirlah kokis ené.

Begitu pula dalam acara-acara adat, Ketika menikmati kokis ené, imajinasi terpanggil untuk menggambar seorang atau sekelompok wanita yang telah menyiasati segala kekurangan—pada masa kelahiran kokis ené—sehingga sebuah acara menjadi mewah. Entah siapa. Seberapa besar penghormatan dan terima kasih kepada mereka tergambar jelas dalam nama itu. Nama yang tak lekang oleh waktu.

Yaps, walau sangat sederhana, jasa camilan ini sangat besar dalam acara-acara adat orang Manus. Misalnya saat ritus kélas, suguhannya pasti kokis ené. Kedatangan anak wina disambut dengan kukis sederhana itu. Saat momen itu, nostalgia pun dimulai. Ia seperti foto, menjadi tempat dan masa lalu. Para orang tua bernostalgia: masa kecil; sedih; senang, dll. Atau kepada kaum muda mereka bernostalgia sembari mewariskan nilai-nilai lama yang tergerus zaman.

Sesekali, sambil terkekeh-kekeh mereka me-review kokis ené, dari yang kurang gula sampai yang rasanya terlalu manis; dari yang kenyal sampai yang paling legit; dari yang bentuk dan ukurannya seperti jahe sampai yang bentuk dan ukurannya seperti granit. Tak lupa mereka mengenang kejadian lucu: gigi Mekas Pet yang terlepas saat gigitan pertama. Ada yang berpendapat kokis ené-nya yang terlalu keras, tapi ada yang berpendapat memang gigi Mekas Pet yang tak lagi kokoh. Begitulah suasana ketika menikmati kokis ené.

Sampai sekarang, kokis ené mengisi menu konsumsi acara-acara adat di Manus, dari upacara yang paling kecil sampai upacara yang paling besar. Kokis ené setia meriung di atas piring menemani segelas kopi, siaga menggugah selera para tua adat dan semua peserta ritual dari anak kecil sampai orang tua.

Sementara itu, ibu hampir tidak pernah membuat kokis ené lagi. Namun, keahlian membuat kokis ené sudah terwariskan kepada ketiga anak gadisnya. Saat sore, ketiga saudari saya itu, selalu inisiatif untuk menyulap terigu dan gula menjadi kokis ené.

Penulis: Opin Sanjaya

Catatan: Tulisan ini sudah dimua di Ngkiong.com

0 Komentar