Kantong mayat Yokbet dilempar ke dalam sebuah lubang berdiameter dua meter dengan kedalaman tiga meter. Terdapat kantong-kantong lain berisikan mayat pada lubang itu. Mereka semua adalah orang-orang yang sudah dibunuh sebelum Yokbet

Idelando.com-Tubuhnya ambruk tanpa dapat dikendalikan. Yokbet kembali merutuki ngilu pada perutnya yang tertembus peluru. Darah tidak lagi meninggalkan noda pada baju kausnya, melainkan mengalir lambat mewarnai permukaan tanah putih bersalju dengan warna merah gelap. Pandangan Yokbet semakin kabur. Rasa dingin dari tumpukan salju di punggungnya kian mengabadikan tubuh pada rebah.

Dentang lonceng gereja saling berbalas. Ketika kidung Malam Kudus terdengar samar, Yokbet membayangkan keluarganya di Wamena tengah merayakan malam Natal dengan kit oba isago yang hangat dan damai. Tiada salju. Tiada ngilu. Tiada peluru. Tiada pula kematian.

***

Yakomina duduk di dekat bakaran yang menguar harum daging babi dan ubi jalar. Obet tersenyum melihat putri bungsunya yang tidak dapat menyembunyikan rasa lapar. Tak jauh dari situ, orang-orang–termasuk istri Obet, tengah menata dedaunan secara berjajar. Demianus datang dan duduk di sebelah Obet.

“Anak sulungmu tidak pulang Natal kali ini?” kata Demianus.

Obet menggelengkan kepala.

“Yokbet dan beberapa mahasiswa diundang pejabat perjamuan malam Natal. Janji sudah dibuat sejak sebulan yang lalu,” jawab Obet.

“Beruntung sekali anakmu. Tidak pernah aku mendengar pejabat mengajak rakyat makan bersama. Jakarta memang ajaib. Semua hal bisa terjadi di sana,”

Yosep yang sedari tadi duduk di dekat Obet, menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan pembicaraan.

“Jakarta memang luar biasa. Pagi tadi saya lihat Youtube. Sejak awal bulan, salju turun di sana. Benar-benar seperti Eropa, menyambut Natal dengan guguran salju,” kata Yosep.

“Istriku juga melihat Youtube. Beberapa orang di Jakarta turun ke jalan berdandan Sinterklas lengkap dengan topi dan janggut tiruan. Mereka menenteng tas berisi permen dan berkeliling membagikan permen itu kepada anak-anak kecil dari rumah ke rumah,” tambah Demianus menggarami pembicaraan.

“Beruntung sekali anakmu bisa kuliah di Jakarta,” kata Yosep.

Obet hanya mengangguk dan tersenyum. Hatinya kembali mengucap rasa syukur. Ketika selepas SMA anak-anak muda di kampung berlari ke gunung untuk memanah babi, Yokbet justru terbang ke Jakarta membidik cita-citanya menjadi wartawan. Salah satu perguruan tinggi menerima Yokbet sebagai mahasiswanya melalui jalur prestasi.

Tentu kuliah di Jakarta sama membanggakannya dengan kembali dari hutan memikul seekor babi dewasa, atau menambatkan kapal di pantai dengan jaring penuh ikan.

Orang-orang tampak mulai membongkar tumpukan bakaran batu. Harum daging babi dan ubi jalar menguar bersama asap. Orang-orang mengambil daging babi dan ubi jalar yang sedari tadi berada di bawah tumpukan batu yang membara. Makanan ditata di atas dedaunan yang telah disiapkan. Demianus menerima makanan bagiannya pada lembar daun pisang tersendiri, ditambah daging bagian kepala babi yang menjadi hak istimewa seorang kepala desa.

Yakomina langsung menghabiskan dua ubi jalar dan sepotong daging babi dengan cepat. Seluruh makanan yang sedari tadi tertimbun batu membara, telah dikeluarkan dan disantap bersama. Kidung pujian Natal kembali dinyanyikan seiring gelas minuman hasil sadapan berpindah dari tangan satu ke tangan yang lain.

Obet menatap langit berawan tebal yang menyembunyikan gugusan bintang.

“Selamat Natal Yokbet, anakku,” ucapnya dalam hati.

  ***

Tiga orang berdandan Sinterklas mendekati mayat Yokbet yang telah kaku karena hawa dingin. Dua orang dari mereka mamasukkan mayat Yokbet ke dalam kantong. Noda darah pada permukaan salju segera terhapus oleh tumpukan salju baru yang turun dengan deras.

Seluruh permukaan Jakarta tertutup salju. Hawa dingin dan langit muram menyekap kota. Mobil dan motor melaju dengan pelan agar tidak tergelincir. Orang-orang–yang sedari tadi berada di luar ruangan untuk berfoto bersama Jakarta yang bersalju– mulai tidak tampak. Sepertinya mereka tidak cukup kuat menahan hawa dingin bermodalkan berlapis-lapis pakaian tropis.

Artis serta Youtuber berjaket tebal dan mahal, terlihat sedang syuting pada beberapa titik kota demi konten sosial media. Mayat-mayat tunawisma yang membeku pada sudut-sudut jalan menjadi sorotan kamera. Tidak sedikit pula dari mereka yang mengabadikan salju Jakarta dengan siniar. Dapat dipastikan selama sebulan ke depan, semua berita dan Youtuber masih membahas tentang turunnya salju di Jakarta.

Mobil berhenti pada sebuah lapangan terbuka penuh salju. Dua orang dengan dandanan Sinterklas turun dari mobil dan menggotong kantong berisi mayat Yokbet. Seorang lagi mengamati kartu identitas yang diambil dari dompet Yokbet.

“Kata bos, dia adalah salah seorang biang kerok. Mahasiswa komunikasi. Jurnalis lepas. Artikelnya sudah dimuat pada beberapa media. Salah satu mahasiswa yang rajin unjuk rasa soal perubahan iklim. Katanya turunnya salju di Jakarta adalah simbol kerusakan iklim,”

Kantong mayat Yokbet dilempar ke dalam sebuah lubang berdiameter dua meter dengan kedalaman tiga meter. Terdapat kantong-kantong lain berisikan mayat pada lubang itu. Mereka semua adalah orang-orang yang sudah dibunuh sebelum Yokbet.

“Anak-anak muda selalu begitu. Mereka pikir pembangunan akan berhenti hanya karena iklim tidak menentu? Katanya mengurangi polusi, giliran unjuk rasa malah membakar ban,” kata salah seorang berdandan Sinterklas yang baru saja melempar mayat Yokbet.

“Mudah sekali mereka tergiur ajakan makan malam,” kata seorang lain.

“Mahasiswa rantau dasarnya adalah orang-orang kelaparan. Ajakan makan tidak akan mereka abaikan,”

“Ayo cepat masuk ke mobil! Masih ada dua mahasiswa yang harus dihabisi. Segera selesaikan dan pulang ke rumah. Hawa dingin ini menyiksa asam uratku.”

Ketiga orang berdandan Sinterklas bergegas masuk ke dalam mobil. Mobil melaju perlahan meninggalkan lapangan. Salju turun kian deras. Mayat Yokbet dan lainnya di dalam lubang semakin tertimbun salju hingga mengabadikan kelam dalam beku yang kekal.

***

Orang-orang bersorak takjub bercampur heran ketika mendapati salju turun dari balik gugus awan. Suhu menurun drastis. Suasana menjadi sangat dingin. Beberapa orang mulai masuk ke rumah karena kedinginan, namun kebanyakan tetap berada di luar dengan kepala mendongak ke atas. Butir-butir salju mendarat di rambut dan jidat.

Yakomina dan anak-anak lainnya malah berlomba mengumpulkan salju pada telapak tangan masing-masing. Salju lambat laun menutupi seluruh permukaan Wamena.

Obet menatap langit yang menurunkan salju. Tangannya meraih gumpalan putih yang selama ini diceritakan hanya ada di Puncak Jaya. Sensasi lembut dan dingin terasa asing. Ganjil. Istrinya menatap Obet dengan tatapan cemas.

“Jika salju turun di Wamena, ayah harus bersiap. Alam sudah berbahaya. Kita bisa terbunuh olehnya. Buat rumah sehangat mungkin agar tidak mati kedinginan. Negeri ini selalu bermimpi tentang salju tapi kita tidak akan siap ketika alam benar-benar mengabulkannya,”

Obet terpaku mengingat perkataan anak sulungnya melalui telepon beberapa bulan lalu.

“Kenapa ayah Kenapa diam?” tanya Yakomina.

Obet menggelengkan kepala.

“Tidak apa-apa. Ayah hanya teringat pada kakakmu.”

Jogjakarta, 28 November 2021

Penulis: Kristophorus Divinanto Adi Yudono–biasa dipanggil Divin. Lahir di pesisir pantai selatan Jawa, kota Cilacap, Jawa Tengah. Kegiatan menulis dilakukan di tengah rutinitas menemani siswa sekolah dasar belajar dan membaca manga. Pemilik akun Instagram @kristophorus.divinantoNarahubung: 085869696258

[1] Istilah masyarakat Wamena untuk tradisi bakar batu/lebih akrab dengan istilah barapen.

0 Komentar