Idelando.com-Kita pernah kehilangan plot. Ada berbagai sebab kita kehilangan plot, seperti putus cinta, kehilangan pekerjaan, kepergiaan orang-orang yang kita cinta, dll. Ketika kehilangan plot, hidup dan benak semrawut. Yang ada hanya keruwetan dan kekacauan. Kehilangan plot berarti kehilangan bentuk hidup. Itu sebabnya kita mencari atau menyukai narasi-narasi eksternal untuk harapan yang mereka tawarkan. Film. Buku. Drama Televisi. Itu semua tempat untuk kembali menemukan plot hidup. Apa benar begitu? Nanti saya jawab. Yang pasti ketika kehilangan plot, kita sedang berada di titik terendah.

Sebelum tulis ini, saya kehilangan plot. Karena putus cinta, lalu kepergiaan orang yang sangat kami cinta dalam hidup. Hari-hari sangat berantakan. Pekerjaan tak terorganisir. Hari-hari dibayangi hal-hal tidak nyata: masa lalu dan masa depan. Saya jutru mengabaikan diri. Saya sedih oleh narasi-narasi yang saya ciptakan sendiri di alam bawah sadar saya. Saya tidak benar-benar merasa ada sepenuhnya dalam diri. Saya merasa seperti mengendalikan diri dari tempat lain.

Saya takut dan cemas akan mantan pacar saya. Takut dia tidak baik-baik saja. Cemas dia tidak bahagia bersama orang lain. Padahal semua itu tidak nyata. Saya sedih bukan karena mencemaskan diri sendiri, melainkan cemas akan orang lain. Kehidupan orang lain yang saya ciptakan dalam alam bawa sadar. Barangkali inilah yang tidak disadari oleh orang-orang sedang berada di titik terendah. Padahal itu palsu. Itu tidak akan terjadi.

Lalu ada upaya agar terlihat baik-baik saja. Posting foto sumringah dan tertawa di medsos dengan kata-kata yang menunjukkan kau bahagia. Lebih tepatnya agar terlihat bahagia. Kau mengejar kebahagiaan saat terluka? Itu omong kosong. Bahagia hanya perasaan sementara karena kau sedang mengalami hal yang membuat kau bahagia. Saat sedang terluka kau bisa sedikit bahagia karena hal-hal tertentu. Yang kau butuhkan saat terluka hanya "sembuh". Namanya luka, ya butuh sembuh. Seperti ketika lututmu luka karena jatuh motor, yang kau butuhkan pertama adalah rasa sakitnya hilang, bukan luka yang kering. Inilah yang membuat saya sedikit terlarut dalam kegalauan saya, saya mengejar bahagia bukan berupaya untuk sembuh.

Apa bisa kita menyembuhkan diri sendiri?

"Lebih baik sembuh oleh diri sendiri, daripada oleh orang lain". Ini adalah prinsip yang pernah saya pakai dan saya tawarkan untuk orang lain. Saya menariknya kembali. Saya ganti kata "oleh" dengan "cara". Jadi, lebih baik sembuh dengan caramu sendiri. Sama halnya ketika lututmu luka. Kau butuh obat-obatan tradisional untuk menghilangkan nyeri atau obat-obat kimia pengering luka. Itu semua adalah cara untuk sembuh.Tidak seorang pun akan menyelamatkan kita selain diri kita sendiri.

Saat itu, saya sangat suka menjepret pemandangan alam dengan ponsel saya. Saya mengeditnya dengan filter-filter yang saya suka. Lalu saya posting ke media sosial ditambah kata-kata yang sedikit menggelikan. Saya sadar, semua itu saya lakukan karena sedang kehilangan plot. Saya melihat plot dalam gambar-gambar alami itu. Dan, kata-kata romantis yang saya tambahkan semata-mata upaya agar saya terlihat bahagia di mata orang lain. Ada dualisme. Saya ingin sembuh, tapi saya ingin telihat bahagia. Itu kekonyolan yang pernah saya buat. Batapa kurang sabar saya. Seharusnya saya mulai dari sembuh, lalu perasaan bahagia itu akan muncul.

Kalau tentang menulis, memo handphone saya penuh dengan catatan-catatan pendek. Saya sadar bahwa itu semua hanyalah harapan untuk plot hidup saya. Ada beberapa yang saya  posting karena sedikit bijaksana, tapi di balik itu semua hanya kesedihan.

Bagaimana dengan narasi-narasi eksternal?

Saya adalah cerita yang rumpang. Oleh karena itu, saya mencari narasi-narasi eksternal. Saya membaca Matt Haig, sehingga saya menemukan istilah "kehilangan plot". Saya membaca Ichiro Kishimi & Fumitake Koga, sehingga saya berani menerima semua keburukan yang saya alami sebagai bagian dari hidup saya. Saya membaca sedikit tentang teori Alfred Alder, sehingga saya mau menghormati kebahagiaan orang lain. Saya membaca Haruki Murakami, sehingga saya selalu berusaha untuk sembuh sampai saya lupa kapan saya sembuh. Saya menonton series yang membuat saya sedikit tertawa. Di sana saya temukan plot hidup yang saya inginkan untuk hidup saya. Matt Haig bilang, setiap buku yang ditulis adalah produk benak manusia pada keadaan tertentu. Kalau semua buku dihimpun menjadi satu, Anda akan mendapatkan rangkuman kemanusiaan. Satu yang saya maknai dari semua cerita itu bahwa itu adalah gambaran saya sendiri sebagai manusia.

Penerimaan

Apakah saya menemukan kembali plot saya? Lebih tepatnya tidak. Justru satu kata kunci yang saya temukan, yaitu "penerimaan". Kalau boleh saya mengutip Matt Haig, ini yang dia katakan: kebahagiaan atau ketenangan bukan didapat dengan memikirkan pikiran-pikiran bahagia. Tidak. Itu mustahil. Tidak ada pikiran atau intelegensia apa pun di bumi ini yang bisa menghabiskan seumur hidup hanya dengan menikmati pikiran-pikiran bahagia. Kuncinya adalah ikhlas menerima pikiran-pikiranmu, semuanya, bahkan pikiran-pikiran buruk. Terimalah pikiran pikiran itu, tapi jangan mengikutinya.

Contohnya, pahamilah bahwa jika ada pikiran sedih di benakmu, atau jika kau terus-terusan punya serangkaian pikiran sedih, itu bukan berarti kau adalah orang yang sedih. Kau bisa berjalan di tengah badai dan merasakan terjangan angin, tapi kau tahu bahwa kau bukanlah angin.

Kita seharusnya menghadapi pikiran-pikiran kita dengan cara seperti itu. Kita harus mengizinkan diri kita merasakan semua hujan deras dan badai, sambil sepenuhnya mengetahui bahwa itu semua sekadar cuaca.

Jadi, saya bukan cerita yang rumpang. Saya harus menerima bahwa itu semua adalah plot hidup saya yang harus saya lewati. Bayangkan sebuah cerpen yang kau baca. Ceritanya akan berjalan dengan baik bila cerita itu memiliki konflik. Namun, tiap konflik ada penyelesaiannya. Kau adalah makhluk yang punya cara. Cara kau menyelesaikan konflik akan menentukan kehidupan seperti apa yang akan kau hadapi di waktu yang akan datang.

So, sebelum tulisan ini makin mengambang ke mana-mana, saya mengutip Murakami untuk kalian: Setelah badai berlalu, kau tidak akan ingat bagaimana caramu melewatinya, caramu bertahan. Kau bahkan tidak bisa sepenuhnya yakin bahwa badai itu sudah benar-benar berlalu. Tapi yang jelas saat kau selamat dari badai, kau bukan orang yang sama lagi. Memang itulah tujuan badai. (*oid)

0 Komentar